9 Pernyataan Tak Terucap Dari Seorang Anak

Diposting pada
Sebagai orangtua mungkin kita diam-diam memendam kecemasan yang sama, yaitu bagaimana nasib masa depan anak kita? Seringkali kita mencari jawaban atas kecemasan itu dengan menghadiri seminar dan membaca buku-buku parenting. Namun ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian orangtua, yaitu bagaimana menjalin komunikasi dengan anak.
Komunikasi tidak selalu fokus pada komunikasi verbal. Albert Mehrabian, seorang peneliti komunikasi nonverbal mengatakan bahwa ketika kita berkomunikasi, selain menggunakan kata-kata, seseorang juga akan melibatkan perasaan dan sikap. 7 persen pesan dikomunikasikan melalui kata-kata yang diucapkan, 38 persen melalui bahasa tubuh dan nada suara, sedangkan 55 persen melalui ekspresi wajah.
Apabila dilihat dari sudut pandang orangtua, maka kita hanya menangkap 7 persen pesan dari kata-kata anak. Sedangkan 93 persen terungkap melalui bagaimana anak mengkomunikasikan pesannya melalui bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah. Dari sana dapat dilihat bahwa ungkapan komunikasi nonverbal lebih dominan. Lalu, apa sebenarnya pesan komunikasi yang tak terucap, yang kerap kali ingin disampaikan oleh anak?
1. Cintailah Aku Sepenuh Hati
Setiap anak membutuhkan rasa cinta. Saat seorang anak merasa dicintai maka dia akan tumbuh dan berkembang dengan rasa aman. Saat anak merasakan cinta berlimpah dalam kehidupannya (bukan memanjakannya), maka ia akan mudah berbagi cinta tersebut dalam bentuk perilaku yang menyenangkan, mudah berkerja sama, dan menjadi bersemangat menjalani hari-harinya. Cinta ibarat bahan bakar dalam kehidupan manusia, saat perasaan cinta penuh dalam diri manusia maka ia dapat beraktifitas dengan baik dan penuh semangat.
2. Aku Ingin Menjadi Diri Sendiri
Setiap anak meiliki keunikan yang berbeda dengan anak lainnya. Memahami keunikan anak artinya mau berusaha mengerti lebih dalam tentang diri dan kehidupannya. Seringkali orangtua gagal dalam hal ini, tetapi teman sebayanya mudah memahami dan mengerti akan hal ini.
Banyak kasus anak tidak dapat berkomunikasi dengan orangtuanya serta membangun hubungan yang baik hanya karena orangtua tidak memahami hal ini. Orangtua seringkali menjadi orang pertama yang mengubah dan mengatur anak menurut pandangan mereka. Dan kelak jika anak sudah beranjak dewasa, orangtua mengharapkan anak dapat menjadi dirinya sendiri. Itu adalah hal yang melelahkan bagi anak.
Meskipun demikian, tidak berarti menganjurkan anak dibiarkan saja dan hidup semau-maunya. Tetapi menyarankan orangtua agar belajar dan memahami, serta fokus terhadap arah kehidupan anak, misalnya anak lebih senang musik dan seni, atau lebih suka olah raga. Setelah memahami, maka dampingi dengan fokus dan berikan arahan yang membangun untuk menumbuhkan buah yang terbaik dari dalam dirinya.

3. Cobalah Mengerti Aku dan Cara Belajarku
Setiap manusia punya pola belajar yang berbeda. Ada yang suka melihat dan membaca, ada yang suka mempraktekkan apa yang dipelajari, ada yang senang mendengar saja, ada yang senang belajar dengan musik, dan masih banyak lagi variasi dalam belajar.
Jika di kepala (persepsi) orangtua memiliki definisi belajar adalah duduk dan membaca buku, maka ini bisa jadi masalah besar bagi anak dan orangtua. Sebagai orangtua, tidak otomatis tahu segalanya. Berpengetahuan hanya diperoleh melalui proses belajar, alangkah bijaknya orangtua jika mau belajar, dan meningkatkan pemahaman agar pertumbuhan anak tidak terhambat karena “kebodohan” orangtua.
4. Jangan Marahi Aku Didepan Orang Banyak
Harga diri seorang manusia berharga sangat mahal. Semakin mahal dan tinggi maka potensi suksesnya akan semakin baik. Saat anak lahir, dia sudah dibekali dengan harga diri yang tinggi, tetapi lagi-lagi karena ketidaktahuan orangtua harga yang tinggi ini direndahkan secara bertahap.
Memarahi anak didepan orang banyak akan membuat dirinya rendah dihadapan orang banyak. Ada perasaan tidak berharga, tertolak, dan tidak aman tumbuh didalam dirinya, jika hal ini terus berlanjut maka harga diri anak akan rusak dan akan menjadi rendah. Dengan harga diri yang rendah, tidak akan ada pencapaian yang tinggi dan besar dalam kehidupan seseorang.
5. Jangan Bandingkan Aku Dengan Orang Lain
Membanding-bandingkan anak adalah hal yang tidak menyenangkan, dan anak sangat tidak menyukai hal itu. Walaupun respon setiap anak berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ada anak yang diam, dan bahkan ada yang reaktif (marah) ketika dibanding-bandingkan. Kita sendiri lebih senang diakui keunikan kita dan diterima atas perbedaan itu.
Jika anda sebagai orangtua dibanding-bandingkan satu sama lain, misalnya Ayah jahat Ibu baik, kenapa sih Ibu tidak seperti Ayah, Ibu pelit tidak seperti Ayah, dan lain-lain. Apa yang anda rasakan? Sedikit demi sedikit akan muncul rasa tidak nyaman dalam lingkungan seperti itu, dan benih negatif (marah, permusuhan, dan iri hati) sedang ditabur dan tidak akan panen saat itu juga, tetapi saat waktunya tiba maka tekanan di hati akan keluar dengan cara yang tidak indah, karena isinya adalah kotoran emosi.
Kenapa dibandingkan? Karena orangtua tidak bisa mengatur harapan dalam hidupnya. Berharap punya anak yang tipe A tetapi anaknya Tipe B. Ada baiknya orangtua belajar bagaimana memaksimalkan anaknya agar kelak anak menjadi cemerlang dalam hidupnya. Membandingkan anak dapat merusak harga diri seorang anak.

6. Aku Adalah Fotocopy Ayah dan Ibu

Jelas bukan? Anak adalah produk dari orangtua. Ketika dirumah orangtua berbicara dengan cara berteriak, maka besar kemungkinan anak akan menirunya. Pikirkan dengan baik anda ingin anak tumbuh seperti apa, lalu berikan contoh seperti yang anda mau. Tindakan anda berbicara lebih kuat dari sekedar kata-kata anda.
7. Jangan Perlakukan Aku Seperti Anak Kecil Terus
Salah satu penyebab seorang anak tidak bisa “nyambung” dengan orangtua adalah persepsi orangtua yang menganggap anaknya adalah anak kecil terus. Hal ini membuat anak tidak nyaman jika berada disekitar orangtua. Teman mereka justru lebih tahu bagaimana cara memperlakukan dirinya lebih baik daripada orangtuanya.
Ada baiknya segera hapus persepsi anda yang salah mengenai anak, sebab begitu usianya sudah remaja anda harus berubah dalam memperlakukannya. Cara menghargai anak paling mudah adalah dengan memperlakukan dia sama seperti teman baik dan rekan baik anda. Gunakan gaya bahasa dan respon yang apa adanya seperti saat anda menemui rekan anda, maka anak akan merasa dihargai bagaikan orang dewasa.
8. Biarkan Aku Mencoba dan Belajar
Terapkan prinsip ini. Jika anak tidak tahu maka beritahulah dia, bukan mendapatkan amarah. Apa yang terjadi jika anak mencoba sesuatu yang baru dan salah lalu akibat ketidak tahuannya dia dimarahi? Anak akan takut mencoba hal baru.
Jadi tidak boleh marah? Boleh, jika anak sudah tahu lalu melanggar atau sengaja melakukan hal yang salah. Sebelum marah pastikan anda sudah tahu bahwa anak sudah tahu aturan melakukan atau mengerjakan sesuatu dengan benar.
9. Jangan Buat Aku Bingung
Anak membutuhkan arahan, mereka perlu tahu jelas kemana mereka perlu menuju untuk mendapat hidup yang baik. Adakalanya anak tidak bisa mengambil keputusan dengan baik di saat genting dan krusial, maka inilah peran orangtua untuk membantu anak.
Jawaban “terserah” seringkali memicu kebingungan anak. Jika anak terlihat bingung maka ada baiknya anda ambil kendali, sekaligus memberikan informasi dan alasan kenapa keputusan ini anda ambil. Anak akan suka hal ini, dan dia akan belajar banyak dari anda.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *